DPR: Saatnya Produk Made In Indonesia Mengemuka

Kalangan parlemen mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta agar anggaran negara, baik APBN, APBD, maupun yang dialokasikan di BUMN, digunakan untuk belanja barang atau produk dalam negeri. Dengan langkah tersebut diharapkan ke depan barang atau produk karya anak bangsa Indonesia (made in Indonesia) akan lebih mengemuka.

Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan melalui perpesanan instan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (23/8) malam, mengatakan, realisasi dari ajakan Presiden Jokowi tersebut akan menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia terhadap barang atau produk dalam negeri. “Kami sangat apresiasi, tentu yang utama adalah produk yang dibeli atau dibelanjakan adalah produk berkualitas dan memberikan kepuasan bagi konsumen. Kita boleh contoh Tiongkok di mana-mana ada made in China, kita berharap produk made in Indonesia juga ada di mana-mana nantinya,” kata Daniel Johan.

Daniel Johan menuturkan, kalangan parlemen tentunya sangat mendukung barang atau produk lokal semakin maju. Untuk itu, produk lokal juga harus berkualitas dan untuk mewujudkannya membutuhkan dukungan anggaran research and development (R&D) yang besar pula. Sayangnya, besaran anggaran R&D Indonesia saat ini di bawah Kamboja, Filipina, Vietnam, dan Thailand. “Bagaimana mau bersaing mutu kalau tidak ada political will ke arah sana. Padahal, kemajuan teknologi suatu negara akan maju pesat jika ada dukungan anggaran. Karena itu, harus ada political will agar anggaran R&D diperbesar,” jelas Daniel Johan.

Agar anggaran negara dari APBN, APBD, maupun BUMN bisa dibelanjakan untuk barang atau produk made in Indonesia maka kualitas juga harus diutamakan. “Untuk itu, produsen-produsen dalam negeri juga harus diberikan insentif perpajakan agar harga-harga menjadi terjangkau karena bahan baku yang digunakan bisa jadi sebagian besar masih impor,” ungkap Daniel Johan.

Daniel menuturkan, untuk barang atau produk tertentu mungkin memang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri sehingga mau tidak mau anggaran negara pun terpaksa dibelanjakan untuk produk impor. “Bagaimana jika ada kebutuhan barang yang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri, mau tidak mau ya harus didatangkan dari luar, tidak ada pilihan. Contoh, alat rumah sakit yang sangat dibutuhkan masyarakat ternyata tidak bisa dibeli dari dalam negeri, mau produksi kita butuh waktu dan keahlian khusus. Artinya, kan harus beli dari luar negeri, ini tidak jadi soal, asal sambil menyiapkan diri untuk nantinya memproduksi sendiri barang-barang kebutuhan itu sesuai kebutuhan pasar,” kata Daniel.

sumber : investor daily

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

92 − 89 =